Sebuah Nobel Untuk Ilmuwan Iklim
Top Articles

Sebuah Nobel Untuk Ilmuwan Iklim

Sebuah Nobel Untuk Ilmuwan IklimPada 5 Oktober 2021, Hadiah Nobel Fisika diumumkan. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Hadiah Nobel, penghargaan tersebut diberikan kepada para ilmuwan yang bekerja secara langsung pada isu perubahan iklim.

Syukuro Manabe Amerika kelahiran Jepang, Klaus Hasselmann Jerman, dan Giorgio Parisi Italia dianugerahi hadiah untuk mempelajari peran manusia dalam perubahan iklim dan studi menemukan ketertiban dalam kekacauan alam atau buatan manusia.

Dr. Manabe dan Dr. Hasselmann memenangkan setengah dari 10 juta uang penghargaan mahkota Swedia, sementara Dr. Parisi memenangkan setengah lainnya.

Badan cuaca Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memuji kemenangan itu sebagai pertanda baik bahwa ada kesepakatan tentang kontribusi umat manusia terhadap pemanasan global.

Apa yang ditemukan oleh para ilmuwan brilian ini? Dan bagaimana pekerjaan mereka saling terkait? Mari kita cari tahu.

Manabe: Kelahiran Model Iklim

Sebelum tahun 1955, peramal cuaca membuat prediksi tentang cuaca dengan menggunakan data atmosfer.

Namun, studi tentang iklim sangat rumit dan dipengaruhi oleh beberapa proses fisik seperti pergerakan udara, radiasi elektromagnetik, kondensasi uap air, permukaan laut dan daratan, dan banyak lagi.

Pada akhir 1950-an, dengan munculnya komputer dan kemampuan untuk mengekspresikan berbagai proses yang terjadi di Bumi sebagai sistem persamaan matematika, menjadi mungkin untuk membuat model yang mewakili seluruh atmosfer global.

Seorang anggota fakultas Princeton, Dr. Syukuro Manabe mengembangkan model kolom udara vertikal yang memanjang 40 km ke atmosfer. Dia kemudian memvariasikan konsentrasi gas dan memperhatikan bahwa nitrogen dan oksigen memiliki efek yang dapat diabaikan. Namun, perubahan kadar karbon dioksida menyebabkan suhu yang dekat dengan tanah meningkat secara signifikan — ini menunjukkan korelasi langsung antara peningkatan kadar karbon dioksida di atmosfer dan suhu yang lebih tinggi di planet kita.

Selain itu, prediksi Dr. Manabe, yang dibuat lebih dari 50 tahun yang lalu, semuanya menjadi kenyataan; dia memperkirakan peningkatan pemanasan Arktik, penurunan es dan salju, peningkatan kekeringan di beberapa daerah, dll.

Hasselman: Menghubungkan Cuaca dan Iklim

Meskipun cuaca dan iklim terkait erat, cuaca mengacu pada perubahan jangka pendek yang terjadi setiap hari di atmosfer kita, seperti hujan, kelembaban, kecepatan angin, suhu, dll.

Iklim menggambarkan perubahan jangka panjang seperti arus laut dan atmosfer, suhu rata-rata, curah hujan rata-rata, dll selama beberapa dekade.

Pada awal 1970-an, Dr. Hasselmann mengembangkan karya Dr. Manabe dengan membangun hubungan yang jelas antara cuaca dan iklim. Dia menunjukkan bagaimana perubahan cuaca yang cepat dapat direpresentasikan sebagai “kebisingan” dan digunakan dalam model iklim.

Dr. Hasselmann mengidentifikasi ‘sidik jari’ yang ditinggalkan oleh fenomena alam dan aktivitas manusia pada iklim. Dia dikreditkan dengan meletakkan dasar untuk memahami bagaimana aktivitas manusia mempengaruhi iklim.

Parisi: Memesan Dalam Kekacauan

Karya Dr. Manabe dan Dr. Hasselmann membangun fondasi fisik yang kuat untuk model, tetapi butuh karya Dr. Parisi untuk menjelaskan perilaku kacau dalam sistem iklim.

Profesor, Dr. Parisi dari Universitas Sapienza (Italia) mempelajari aturan tersembunyi di balik gerakan yang tampaknya acak, seperti yang terlihat pada gerakan gas dan cairan, kawanan burung, dan bahkan sistem iklim. Dia kemudian mengusulkan teori matematika yang menghasilkan representasi yang lebih akurat dari sistem yang kompleks seperti iklim bumi.

Secara keseluruhan, penelitian oleh para perintis ini telah memungkinkan para ilmuwan untuk memprediksi dan mempelajari sistem iklim yang kacau berdasarkan perilaku atmosfer, lautan, permukaan tanah, dan perubahannya dari waktu ke waktu.

Kemampuan manusia untuk memahami kompleksitas ini patut dipuji. Dengan menganugerahkan para pemenang ini, Akademi Kerajaan Swedia telah membuktikan tidak dapat disangkal bahwa “pemanasan global bertumpu pada sains yang solid.”

Sumber: Hadiah Nobel, NY Times, NPR, Reuters, Phys.org

Posted By : keluaran hk mlm ini